Menumbuhkan Sayang Pada Lembar Seribuan

Sejak diluncurkan oleh Bank Indonesia di tanggal 19 Desember 2016 silam, sampai hari ini, saya baru sekali memegang dan menyimpan uang lembar seribuan emisi baru. Iya, sekali. Itu pun harus saya relakan kepergiannya ketika terjebak di meja pembayaran toilet umum sebuah mall di Surabaya.

Eh, jangan mengasihani diriku ya, memangnya anda-anda sudah pernah memegang uang ini? Baru sadar kan betapa jarangnya ditemui lembar seribuan bergambar wajah Tjut Meutia? Bahkan ada rekan kantor yang baru ngeh kalau ada benda seperti ini. Bayangkan, sedangkan hari biasa saja benda ini langka, apalagi menjelang hari raya lebaran?

Untuk Anda yang belum pernah melihat langsung pecahan seribu perak baru versi kertas ini, bisa melihat gambar berikut lekat-lekat.

uang1000an

uang1000an2
sumber gambar: wikipedia

Sekedar untuk diingat-ingat kemudian, jika Anda perhatikan antara satu lembar pecahan rupiah baru dengan pecahan rupiah baru yang lain, terdapat lima gambar utama yang menjadi ciri masing-masing lembar pecahan rupiah. Pada lembar pecahan seribu rupiah sendiri, terdiri dari bagian gambar utama sebagai berikut:

Tokoh Pahlawan

Pada sisi depan, lembar uang Rp. 1000,- didominasi oleh wajah tokoh pahlawan wanita Tjut Meutia. Beliau adalah pahlawan nasional Indonesia dari daerah Aceh. Sosok wanita tangguh ini ditetapkan sebagai pahlawan nasional Indonesia berdasarkan Surat Keputusan Presiden Nomor 107/1964 pada tahun 1964.

Destinasi Wisata

Pada sisi belakang, di bagian paling kiri kertas, Anda akan menemui ilustrasi Banda Neira. Banda Neira adalah salah satu pulau di Kepulauan Banda, dan merupakan pusat administratif Kecamatan Banda, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku, Indonesia. Tempat ini dulunya hingga pertengahan abad ke-19 sangat tersohor sebagai pusat perdagangan pala dan fuli dunia.

Tarian Tradisional

Di sisi belakang uang Rp. 1000,-, Anda juga akan menemui gambar penari Tifa pada bagian tengah kertas. Tari Tifa merupakan tarian yang menggunakan Tifa yang merupakan alat musik khas Indonesia bagian Timur, khususnya Maluku dan Papua.

Bunga

Masih di sisi belakang, di atas ilustrasi Banda Neira, Anda dapat menemukan gambar Bunga Anggrek Larat. Anggrek larat adalah salah satu bunga identitas Indonesia, yang khususnya dapat ditemukan di Maluku.

Tanda Air

Lalu, jika uang seribuan ini diterawang, kita dapat melihat sosok pahlawan nasional yang lain, yakni Tjut Njak Dhien. Beliau adalah seorang pahlawan nasional Indonesia tersohor dari Aceh yang berjuang melawan Belanda pada masa Perang Aceh.

tandaair1000.jpg
sumber gambar: wikipedia

Kita kembali ke kegelisahan awal, mengapa uang seribuan ini sangat jarang ditemukan?

Jika Anda melakukan riset di dunia maya, banyak sekali ditemukan rumor yang entah bersumber dari mana. Di suatu tulisan yang diterbitkan sebelum penerbitan uang seri baru ini, bahkan ada yang menuturkan bahwa uang lembar seribuan yang bergambar pahlawan Pattimura sudah dihentikan produksinya sejak tahun 2014. Katanya, uang seribuan tidak lagi akan beredar dan kedudukannya sebagai uang kertas pecahan terkecil digantikan dengan uang lembar pecahan Rp. 2000,-. Nyatanya, hingga sekarang ini saya terkadang masih menerima kembalian belanja berupa uang kertas bergambar tokoh yang dikenal juga namanya sebagai Thomas Matulessy ini. Tapi hey, mengapa tidak dengan uang versi Tjut Meutia ini? Saya pun mencoba menerka-nerka penyebab kelangkaan benda ini.

Saya menduga bahwa pecahan seribuan baru ini diproduksi tidak sebanyak pecahan rupiah yang lain. Apakah ada kaitannya dengan perhitungan biaya produksinya?

Saat duduk di bangku sekolah, kita diajarkan tentang nilai nominal dan nilai intrinsik mata uang. Nilai nominal adalah nilai uang yang tertera pada setiap mata uang. Misalnya saja pada uang kertas Rp 50.000,- tertera angka lima puluh ribu rupiah. Maka secara sederhana dapat dikatakan nilai nominal uang tersebut sebesar lima puluh ribu rupiah. Sedangkan nilai intrinsik adalah nilai uang berdasarkan nilai bahan yang dipakai untuk membuat uang tersebut. Nah, apakah nilai bahan pada uang kertas Rp. 1000,- juga setara dengan seribu rupiah?

Coba kita lihat lagi gambar uang seribuan di atas. Betapa uang tersebut dicetak dengan garis dan lekukan yang sangat detail, bertekstur, bahkan memiliki kandungan gambar tanda air serta hologram keamanan yang kompleks. Warnanya pun terbilang sulit didefinisikan. Mau dibilang coklat, kok terkesan hijau. Mau dibilang hijau, kok ada unsur coklatnya. Di sisi belakang malah ada gradasi warna biru, ungu dan merah. Belum lagi bahan kertasnya yang entah terbuat dari materi campuran apa saja sehingga tetap awet walau terguncang di mesin cuci. Percetakan mana di negeri ini yang bisa memproduksi uang kertas tersebut dengan ongkos seribu rupiah?

Kawan, jika kamu berhasil mendapatkan dan menyimpan uang seribuan ini di dompetmu, ketahuilah bahwa sesungguhnya kamu sedang menyimpan benda bernilai lebih dari seribu rupiah.

Saya tidak bermaksud menciptakan kepanikan, apalagi berniat menciptakan lahan bisnis penukaran uang. Yang saya ingin sampaikan adalah bahwa uang kertas bergambar Tjut Meutia juga berhak mendapatkan kasih sayang dan perlindungan sebaik yang tercurahkan kepada yang bergambar Soekarno-Hatta.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s