Menggantungkan Nasib Pada Bintang-Bintang

20 September 2015 adalah tanggal di saat pertama kali saya menggunakan jasa ojek online a.k.a. GOJEK. Sepanjang perjalanan pertama saya tersenyum-senyum dan tergeleng-geleng kagum dengan inovasi Nadiem Makariem, mengembangkan startup yang benar-benar dibutuhkan masyarakat Indonesia: lapangan pekerjaan dan transportasi terjangkau.

Hingga hari ini, GOJEK menjadi pusaka sakti yang paling sering saya gunakan untuk pelbagai keperluan, mulai dari mengantar badan sampai memijat badan. Sedemikian pentingnya gojek, membuat saya bertanya-tanya, siapa di antara manusia Indonesia yang hingga saat ini tidak memakai atau membutuhkan gojek. Ternyata ada. Mereka adalah kaum ojek pangkalan, supir taxi konvensional, dan supir mikrolet. Entah sudah berapa kali gojek dan penyedia jasa transportasi online lainnya didera demo dan teror. Berdasarkan riset mereka, transportasi online menggerus rezeki mereka. Entah benar entah tidak riset ini, namun teknologi ibarat tsunami, tidak mungkin dibendung oleh peradaban manusia.

Pernah sekali waktu saya iseng menggunakan jasa ojek pangkalan, kemudian melakukan wawancara kecil-kecilan: “demi apa bapak bertahan di pangkalan dan tidak bergabung dengan gojek?”. Jawabannya cukup tak jelas, si bapak enggan mengeluarkan pulsa untuk menelpon customer apabila mendapat order. Saya tidak tahu apakah mereka mempunyai alasan yang lain, tapi rasanya memang tidak ada alasan yang cukup bagi mereka untuk bertahan, kecuali ego. Padahal ego tidak bisa mengenyangkan perut keluarga mereka.

Sekali waktu pernah juga diantar oleh gojek yang juga berprofesi sebagai ojek pangkalan. Nah, ini dia driver ojek berkasta paling pintar. Dia tidak harus berada di pangkalan untuk menunggu keberuntungan, dia juga tidak harus selamanya memelototi aplikasi di smartphone kalau memang sedang sepi order online. Ada juga yang menunggu di tempat-tempat keramaian sambil menawarkan gojek offline. Jadi, mereka menawarkan tumpangan, menggunakan rate sesuai aplikasi (tanpa discount), tetapi tidak menggunakan panduan dan mekanisme aplikasi. Apakah ini dibolehkan oleh provider? Menurut pengakuan mereka sih demikian.

Meskipun keberadaan gojek legal dan berbadan hukum, tetap saja mereka merasa terancam mencari nafkah. Saya sebagai penumpang juga seringkali merasa cemas. Setiap saat melakukan permintaan jemput dengan gojek, selalu dipandu oleh mereka untuk menunggu di sini dan di situ, karena khawatir ketahuan para driver tradisional. Duh, kok kucing-kucingan gini. Tidak jarang mereka curhat tentang kondisi yang tidak nyaman ini. Mereka menyesalkan ancaman-ancaman itu, padahal niatnya sama-sama mencari rezeki. Konon, sampai dibuatkan perjanjian hitam di atas putih. Misalnya saja, di sepanjang jalan Letjend Sutoyo Sidoarjo (jalanan sekitar terminal Bungurasih), telah disepakati antara kepolisian, pengemudi driver online, dan driver non online, bahwa driver online dilarang mengambil penumpang di pinggir sepanjang ruas jalan raya tersebut. Namun gojek dan kawan-kawan dibolehkan mengambil penumpang di dalam gang-gang yang ada di jalan tersebut.

Ah…, nasib.

Demikiannyalah mereka tertekan dalam mencari rezeki. Oleh karenanya, se-gapleki apapun layanan mereka, tidak sampai hati lah memberikan mereka reward kurang dari 5 bintang, apalagi sampai begitu kejam memberikan 1 bintang. Kita semua tahu, bahwa penilaian 1 atau 2 bintang oleh satu customer saja bisa berakibat pemutusan hubungan kerjasama dari pihak perusahaan Gojek.

Bayangkan, nafas anak istri mereka berada di keputusan jempol kita saat memberikan penilaian atas pelayanan mereka.

##########################################################################

Tujuan akhir saya tinggal beberapa meter lagi. Saya mencoba meraba-raba pembuka katup slot pengaman helm, …lalu ketemu. Kuangkat helm seirama laju motor yang memelan dan berhenti. Saya turun dan menyerahkan helm hijau kepada pemiliknya. Ingin sekali saya langsung menyahut “pasti, mas!” sebelum ia sempat menyampaikan permintaan: ” mas, saya minta tolong, dikasih bintang lima ya, mas….”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s