Menjaring Data Ala Snapcart

Seharusnya ibu-ibu sudah tahu ini, namanya Snapcart. Tapi setiap kali saya memotret struk belanja dan menjawab pertanyaan tentang saya sedang ngapain, kejadian selanjutnya biasanya berupa ekspresi dan atau ungkapan ‘hah?’ diikuti dengan pertanyaan ‘untung mereka apa?’.

Jadi begini.

Snapcart adalah sebuah aplikasi pada smartphone yang memungkinkan pengguna mendapatkan bayaran cashback dengan cara mengunggah foto struk belanja. Besar kecilnya cashback tergantung dengan besar kecilnya nilai pembayaran yang tertera pada struk belanja, paling sedikit Rp. 10,- per struk, paling banyak Rp. 3.500 per struk.

Mulai menarik kan? Lalu, struk apa yang mereka terima?

Snapcart akan memberikan reward berupa cashback tersebut kepada pembeli dengan beberapa syarat khusus terkait struk:

  • hanya struk yang dibeli oleh pengguna atau orang yang tinggal dengan pengguna
  • hanya struk yang berisi barang pemakaian rumah tangga
  • hanya struk yang tidak diubah
  • hanya struk yang mengandung informasi lengkap, nama dan alamat toko, tanggal dan waktu, detail barang yang dibelanjakan dan total belanja
  • hanya struk kebutuhan sehari-hari, obat-obatan, dan kosmetik.

Cashback yang telah dikumpulkan dapat ditukar dengan voucher belanja tertentu atau ditransfer ke rekening bank pengguna, setelah nilai cashback memenuhi nilai minimal pencairan.

Kita ke pertanyaan selanjutnya, apa keuntungan pihak Snapcart?

Snapcart merupakan sebuah perusahaan startup asal Indonesia yang beroperasi di Indonesia dan Filipina, dengan model bisnis penghimpun big data, sederhananya, surveyor dengan tingkat teknologi, analisa, dan peruntukan yang lebih mutakhir. Mereka menangkap perilaku belanja para konsumen secara terperinci, kemudian menghubungkannya dengan data dari berbagai sumber dan menganalisisnya melalui algoritme, dalam skala yang besar. Dengan data ini, Snapcart dapat menawarkan wawasan perilaku konsumen kepada perusahaan pemilik merek tertentu, sehingga perusahaan tersebut bisa mengambil keputusan terbaik dalam banyak hal. Pada portofolionya, Snapcart telah dipercaya oleh berbagai pemilik brand kenamaan seperti Nestle, Unilever, L’oreal, P&G, Johnson & Johnson, serta banyak perusahaan lainnya. Maka, mungkin, cashback yang diberikan kepada pengguna aplikasi tidak seberapa dibandingkan bussiness fee yang Snapcart terima, di samping fakta, bahwa Snapcart dapat ‘memperkerjakan’ para pembeli sebagai petugas survey, dengan biaya yang sangat murah.

*********

Saat ini kita hidup di zaman di mana teknologi menawarkan keajaiban yang jauh lebih tidak terpekikkan. Segala aktivitas manusia dapat kemudian lebih diringkaskan dengan kemajuan sistem informasi dan teknologi. Lebih jauh lagi, teknologi mampu merevolusi perilaku manusia, dari sebelumnya yang jual mahal memberikan data, menjadi sangat murahan bahkan gratisan. Snapcart adalah salah satu pelaku bisnis teknologi kreatif yang berhasil menangkap kesempatan dan mengubah pola pikir pengguna. Bayangkan, betapa mudahnya mereka mendapatkan data yang masif.

Jack Ma, pemilik Alibaba, mengatakan bahwa di masa depan, dunia adalah sebuah ‘data’, dan kita sudah memasuki tahapan awalnya. Data adalah hal yang sangat penting bagi kehidupan manusia di masa depan.

Selanjutnya, saya tidak bisa untuk tidak mengaitkan inovasi Snapcart dengan harapan kepada instansi tempat saya bekerja. Dapatkah Direktorat Jenderal Pajak (DJP) melakukan sesuatu yang berbeda yang membuat Wajib Pajak menjadi sangat ‘’murahan’’ dalam memberikan datanya? Mungkin ngga ya kita membuat para accounting mengunggah data bisnis perusahaannya secara sukarela ke dalam server DJP? Dengan benefit tertentu mungkin? Gelombang baru telah dimulai, dan DJP harus bisa ‘berada’ dalam periode ini. Jack Ma juga mengatakan bahwa pada era big data, orang-orang yang bisa memanfaatkan momen bisa menjadi sangat kaya dan sukses. Sementara, bagi yang tidak peduli, era big data bisa menjadi sangat menyakitkan.

******

Setelah mendengar penjelasan saya, barulah para ibu-ibu (dan juga beberapa bapak-bapak yang berada di sekitar saya) mencari aplikasi Snapcart pada gawai mereka. Pun setelahnya, mereka tidak lagi membuang sia-sia struk belanja, karena mereka siap ‘diperkerjakan’ oleh Snapcart.

by omcalip

23082017

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s