Keluarga Cemara Di Dalam Bus

“Suami itu kalo berangkat kerja didoakan yang baik-baik, bukan dicurigai… “

Kalimat ini berhasil mengalihkan perhatian saya dari layar smartphone yang isinya kebencian di hampir setiap aplikasinya. Wah…, sepertinya saya melewatkan pembicaraan yang seru. Saya cari-cari darimana sumber kalimat tadi.

“Kita itu pergi kerja, banting tulang, untuk anak istri… Hidup susah begini…”

Aha! Rupanya catatan-catatan hati seorang suami tadi keluar dari mulut pak supir. Samar-samar saya mencoba melihat sosok beliau. Tubuhnya yang tegap walau tambun duduk di kemudi raksasa itu. Wajahnya tidak nampak karena tidak berpaling dari jalanan, apalagi beliau mengenakan topi merah yang menghalangi cahaya ke wajahnya. Dengan logat bataknya yang tebal, dia berbagi pemikiran dengan rekan kerjanya, pak kernet.

Di dalam bus, tersisa 7 penumpang dengan tujuan akhir terminal Bungurasih, 3 di antaranya termasuk saya, bersiap-siap untuk turun di depan rumah tahanan Medaeng. Kondisi bus senyap, sehingga saya yang berada 5 baris di belakang supir masih bisa mendengar dengan baik percakapan mereka. Saya berpindah tempat duduk ke kursi yang lebih dekat dengan pak supir. Bukan sekedar kepo, tapi memang sebentar lagi saya akan turun di pemberhentian tujuan.

“Kita kan bekerja seperti ini ya untuk mereka juga, kan?”

Kalimat bermakna sama dengan susunan kata yang berbeda diulang lagi oleh pak supir. Pak kernet hanya menyambutnya tersenyum-senyum, tidak terlalu banyak menanggapi.

“Kita kerja jauh seperti ini malah dicurigai,…bagaimana…” sekali lagi.

“GAK USAH KHOTBAH! GAK USAH KHOTBAH” tetiba hardikan keras terlontar dari mulut wanita paruh baya dengan rambut tercempol yang duduk dibelakang pak supir.

Seolah sudah terbiasa dengan hardikan seperti ini, pak supir melanjutkan curhatannya. “Makanya Diana sekolahnya yang bagus, biar nanti jadi dokter. Jadi kalo Bapak sakit, Diana bisa kasihkan obat.”

Saya melihat seorang gadis kecil berambut panjang berusia sekitar 7 tahun yang duduk di samping wanita tadi. Si gadis kecil ini tidak membalas dengan respon apa-apa, hanya diam melihat lampu-lampu jalanan dan kendaraan yang terlewati, sepertinya juga sudah terbiasa dengan nasihat ini.

“Udah ditinggal berapa lama, mba?” akhirnya pak kernet penasaran juga.

“Rong sasi (dua bulan)! Rong sasi setengah (dua bulan setengah)! Janjine pulang tanggal limolas (lima belas). Iki wis tanggal piro (sekarang sudah tanggal berapa).” imbuh sang wanita meluapkan keresahannya, mungkin juga kerinduannya. Lalu disambut tawa kecil pak kernet, pak supir juga sepertinya tersenyum-senyum, saya pun, dan mungkin 5 penumpang lainnya pula.

“Medaeng… medaeng…. medaeng…” pak kernet mengingatkan saya untuk bergerak mendekati pintu bus.

Ah, sayang sekali. Saya harus meninggalkan keluarga pak supir, tapi senyum saya tadi masih bertahan beberapa menit setelahnya, betapa cerita kehidupan yang nyata oleh manusia-manusia nyata yang mengaduk-aduk perasaan.

Semakin bulat tekad saya untuk terus mengendarai bus ekonomi setiap harinya. Gak ada perasaan khawatir sama sekali, saya justru berada di sekeliling manusia-manusia yang paling jujur,…

… dengan cerita yang berbeda setiap hari. 🙂

Sidoarjo, 19 Desember 2016.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s