Generasi Y, Orde Baru dan Bangku Sekolah

Pagi itu, mataku berkaca-kaca. Semua mata tertuju pada mataku, seolah menunggu reaksi yang lebih dari sekedar berkaca-kaca. Mungkin juga semuanya terkejut. Aku pun, terlebih-lebih.

Bagaimana mungkin? Apa benar yang diumumkan guru olahraga di depan kelas barusan? Beliau membacakan nilaiku, seorang murid teladan yang senantiasa berada di wilayah prestasi ranking 3 besar setiap caturwulannya, dengan nilai kelewat absurd untuk sebuah mata pelajaran yang menyenangkan.

“M. Syarif Mansur,… lima…”

Seperti habis melihat tuyul lewat, mataku melotot seolah itu akan membantu mempertajam pendengaran, sambil menunggu pak guru meralat ucapannya, semoga.

Sayangnya kemudian tidak, matanya hanya fokus kepada buku daftar nilai yang ia buka. Sementara mata-mata lain menggibah. Semakin saya melihat mata mereka, semakin meretak genangan di mata. Suasana berisik di kelas dua sekolah dasar mendadak senyap, sampai-sampai saya bisa mendengar salah seorang temanku berbisik dengan siswa lain.

Tidak…mata ini tidak mungkin lagi bisa menanggung lebih banyak genangan, lebih baik aku menunduk, membiarkan semua mengalir sebagaimana mestinya. Bapak… Ibu…kalian harusnya ada saat ini juga, aku minta kalian peluk aku sekarang juga. Kugunakan lengan kananku untuk menghapus sia-sia air mata yang kian menderas.

Pak guru olahraga akhirnya memecahkan keheningan. Saya masih ingat betul, beliau lantas berkata….

“…ya gimana… kamu tidak beli buku pelajaran dari saya…  

***

Hari itu menjadi hari pertama saya menangis di sekolah, sekaligus menjadi hari dimana saya dikenalkan dengan dunia nyata, inilah orde baru, ananda.

Semuanya terasa begitu wajar. Ayahku memaklumi semuanya, esoknya, sambil memberi uang untuk menebus buku pelajaran olahraga dan nilai yang beradab, padahal ayahku sendiri yang awalnya memutuskan agar saya tidak membeli buku itu, toh tidak wajib, toh tidak ada ujian tulis untuk mata pelajaran olahraga.

Selanjutnya, barang apa pun yang dijual guru dan sekolahku, akan kutulis di daftar barang sekolah wajib beli, di atas meja kerja ayahku. Pokoknya aku harus tetap jadi juara kelas.

***

Bangku sekolah menengah pertama ternyata tidak lebih baik. Hampir semua guru berbisnis LKS. Tapi tak mengapa, kalau bukan karena LKS, mungkin saya tidak mengenal apa itu sahabat pena.

***

Puncak pencemaran nama baik pendidikan Indonesia saya saksikan sendiri semasa sekolah menengah atas. Terlalu banyak. Namun yang paling membekas, adalah beberapa guru mata pelajaran penting seperti Matematika, Fisika, dan Kimia, memamerkan aksi penggadaian profesionalisme mereka sendiri.

Di jam sekolah, saat mereka harusnya mencurahkan keilmuan mereka dengan layak, ternyaa hanya diisi dengan teori perhitungan dasar dilengkapi dengan contoh-contoh soal yang sederhana. Hal ini kemudian mencekik, ketika soal ujian harian disajikan rumit bukan main. Alhasil, nilai ujian harian para siswa rata-rata di kisaran 0, 2 dan 3, kecuali beberapa siswa yang mendapat nilai 9 dan 10. Mereka lah siswa yang mengikuti tawaran les tambahan di luar jam sekolah.

Pada les tambahan itu, bukan saja para guru mengajar lebih baik, tapi bocoran soal-soal ujian diberikan saat itu. Mau tidak mau, saya kembali harus membebani pengeluaran orang tua saya untuk biaya les tambahan dari para oknum guru ini.

***

Semua hal di atas hanyalah sebagian kecil pengalaman kami, generasi Y, melalui masa bangku pendidikan dengan realita penanaman bibit budaya suap. Suatu saat bibit ini tumbuh, menghadapkan kami pada pilihan, apakah kami harus mencabutnya walau berdarah-darah, atau membiarkannya tumbuh mengakar dengan sangat kuat. Sekali lagi, saat itu, semuanya terasa sangat wajar. Kami bahkan tidak sadar kalau itu adalah suatu hal yang patut diprotes. Saat itu, di setiap upacara hari Senin, kami diminta menyanyikan lagu Hymne Guru bersama para oknum guru yang sedang menghitung-hitung keuntungan ‘bisnis’ mereka.

Pada generasi kami, KPK belum ada. Sangat iri lah kami dengan generasi lanjutan, mungkin masa depan Indonesia bersih, ada di tangan mereka.

Ah…anak-anakku, kalian adalah generasi yang paling beruntung, sebentar lagi, pendidikan anti korupsi akan masuk ke kurikulum pendidikan sekolah kalian.

***

Surabaya, April 2015. Saya menemani istriku ke bangunan SMA nya dulu di jantung kota Surabaya, bersebelahan dengan komplek kediaman Gubernur Jawa Timur. Kami berpayah-payah di siang hari untuk meminta tanda tangan kepala dan cap sekolah di atas fotokopi ijasah. Istriku memang memerlukan dokumen itu saat ini. Kami diminta memasuki semacam ruangan sub bagian tata usaha dan rumah tangga.

Sesaat setelah istriku menerima lembaran fotokopi ijasah yang telah dilegalisir, salah seorang di ruangan itu, mengangkat sebuah benda, dari tempat yang tak terlihat menuju hadapan kami, seolah sambil berkata ‘KEJUTAN!’. Benda itu adalah sebuah wadah aquarium mini, namun tidak berisi air dan ikan hias, alih-alih lembaran kertas berwarna biru dan merah.

“Seikhlasnya…” katanya.

Tai.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s