Memaklumi Demi Untuk Dipahami

Siang tadi saya iseng-iseng melihat isi pembicaraan teman-teman lama semasa bangku sekolah, di sebuah aplikasi pesan singkat pada smartphone saya. Saya sudah menebak-nebak, paling-paling isinya berupa puluhan notifikasi dengan topik tak termonitor. Sampai kemudian, seorang rekan mengunggah sebuah inset cuplikan koran dengan konten hal penyesuaian APBN 2016 oleh ibu Menteri Keuangan, yang akan mengakibatkan penyesuaian anggaran kegiatan tertentu di tiap-tiap unit organisasi kementerian dan lembaga negara.

Teman-teman yang di antaranya adalah aparatur negara, satu per satu memperlihatkan keresahannya dengan kebijakan ini. Sebagai salah satu anak buah ibu menteri, saya mencoba memberikan penjelasan singkat, bahwa tidak perlu ada yang dicemaskan dalam kebijakan ini, apalagi kalau yang dicemaskan adalah potensi pemotongan penghasilan gaji dan atau tunjangan aparat negara, tidak… bukan itu yang akan terjadi. Teman-teman kembali memberikan feedback yang beraneka ragam, mulai dari kebingungan penyusunan kembali rencana kerja organisasi, hilangnya potensi tambahan kesejahteraan, hingga hilangnya pos anggaran khusus yang biasanya digunakan saat kondisi darurat. Keresahan mereka seketika menyublim menjadi kemarahan kecil. Seseorang di antaranya mulai bertanya, ini salah siapa? Pembicaraan berlanjut hingga pada kesimpulan bahwa keberadaan oknum semacam gayus di tubuh Ditjen Pajak -tempat saya mengabdikan diri- lah yang menyebabkan semua ini.

I said to my self… WHAT THE F…?

Lalu saya mulai mengetuk-ngetukkan kedua jempol saya pada layar smartphone dengan upaya memindahkan kalimat spontanitas tadi lengkap dengan pembelaan dan penjelasan terperinci. Hampir saja saya menekan wilayah layar bertulis SEND, sampai akhirnya saya menghapus semuanya dan memilih untuk diam.


Malam ini, saya melihat atasan saya, Pak Ken, dihadirkan di sebuah acara debat kusir populer, Indonesia Lawyers Club, untuk berusaha mencoba menjawab keresahan masyarakat terkait kebijakan Amnesti Pajak. Beliau mencoba menguraikan isu-isu yang tidak benar dengan poin-poin yang sebenarnya. Kemudian, tentu saja tidak semudah itu, produser acara telah menyiapkan figur-figur oposisi non-riset dengan potensi mendebat secara kosong, demi memeriahkan acara ini. Saya yakin, mereka bahkan belum pernah menyentuh Undang-Undang Pengampunan Pajak.

Betapa saya menyaksikan Pak Ken memilih untuk tidak memotong opini-opini mereka yang berbicara serampangan. Saya tahu Pak Ken ingin menjelaskan kepada mereka bahwa ada yang salah dengan pemahaman dan cara berpikir mereka, tapi beliau mempercayakan jalannya acara kepada Pak Karni Ilyas. Pak Ken bahkan tidak pernah meminta tambahan kesempatan untuk berbicara.

Seketika saya berujar, bagaimana mungkin beliau dapat menahan diri dari penyudutan itu, bagaimana caranya, butuh waktu berapa lama untuk bisa bersikap sedewasa itu, kapan saya bisa seperti itu.

Kesempatan bicara selanjutnya diserahkan kepada Hotman Paris, beliau berbicara, entah itu berbicara atau berteriak, ….dan sekelibat saya melihat diri saya di sana…. ouuu sh.


Diam.

Sekilas seperti menyerah,

seperti kalah,

padahal itu bukan untuk kemenangan siapa-siapa.

Kebingungan dengan kemarahan tidak akan mampu dicerahkan oleh sebuah, bahkan oleh ratusan penjelasan. Mereka yang marah, tidak akan bisa dibendung dengan ajakan apa pun. Karena kita tahu, yang sesungguhnya mereka butuhkan bukanlah pemahaman, tetapi waktu untuk memahami. Kadang-kadang kita menempuh langkah diam, untuk menyatakan kita paham. Kita harus paham bahwa mereka mungkin belum paham. Maka pribadi yang paham harus bisa memaklumi, harapannya, agar nantinya semuanya berkenan mencoba saling memahami.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s