UPKP: “Uh….. PHP!”

Pernah ga Anda ‘merasa’ dekat dengan seseorang dan hampir merasa yakin kalau bakal ‘jadian’, tapi seseorang itu malah memilih bahkan menikah dengan orang lain? Anda kecewa, marah membuncah, spontan menghardik: “Uh…PHP!” Padahal ya, mungkin saja orang itu tidak bermaksud nge-PHP-in Anda. Mungkin saja, Anda yang ke-ge-er-an?!

————————————————

Tahun ini adalah kesempatan kali kedua saya mengikuti Ujian Penyesuaian Kenaikan Pangkat (UPKP) V. UPKP V adalah ujian yang harus ditempuh oleh pegawai Kementerian Keuangan yang telah menyelesaikan perkuliahan S1 dan ingin menyesuaikan kepangkatan berdasarkan pendidikannya. Keuntungan bila berhasil menempuh ujian ini adalah pegawai yang bersangkutan bisa ‘menghemat’ waktu kenaikan pangkat hingga 6 tahun! Karenanya, ujian ini sangat dirindukan, terlebih lagi beberapa tahun lalu ujian ini sempat mengalami moratorium (peniadaan) selama 2 tahun.

Pagi tadi adalah hari pertama dari dua hari penyelenggaraan UPKP. Hari pertama berisi ujian Tes Potensi (mirip TPA) dan ujian materi normatif seperti wawasan kebangsaan, nilai-nilai organisasi, dan lain-lain. Seusai ujian Tes Potensi, selalu saja disemarakkan dengan kehebohan respon para peserta ujian. Mereka membicarakan betapa pembuat soalnya ‘tega’ menyaring mereka dengan cara seperti ini, ujian dengan tingkat kesulitan yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Baik tahun ini maupun tahun lalu, ada saja yang bersontak “U-PHP!” sebagai wujud kekecewaan mereka yang sudah merasa yakin tidak akan lulus dalam ujian UPKP ini. Para peserta ujian kebanyakan awalnya menganggap bahwa ujian ini hanya formalitas dan tidak akan sulit. Pengumuman kehadiran UPKP yang hanya sekali setahun ini, disambut baknya audisi Indonesian Idol, sebuah ajang pencarian bakat bernyanyi yang sebenarnya hanya ditujukan kepada yang memiliki suara emas, tapi malah justru diramaikan oleh peserta audisi yang kebanyakan bersuara sumbang yang tak tahu diri tetap memberanikan diri mengikuti audisi.

Hampir sama dengan kisah asmara berambang di atas, mungkin saja UPKP ini tidak bermaksud memberi harapan palsu. Mungkin saja, kita yang terlalu ge-er cenderung ke-pe-de-an, yang mengira semuanya akan sesuai rencana (lulus).

Sebelum ujian tadi pagi, pengawas yang juga bertindak selaku pemandu ujian, sempat menyampaikan bahwa, memang, kelulusan ujian ini memang ada ‘quota’nya. Ini berarti, untuk lulus ‘ujian’ UPKP V, tidak ditentukan dari seberapa mampu kita memenuhi standar nilai minimal kelulusan, tetapi apakah skor kita mampu melebihi skor peserta yang lain. Mendengar penjelasan seperti itu, saya merasa lega sekaligus khawatir dalam waktu yang bersamaan. Lega, bahwa ketidaklulusan saya di tahun yang lalu bukan berarti menunjukkan saya ber-IQ di bawah standar. Dan khawatir, bahwa jikalau pun saya mengerahkan seluruh daya akademis semaksimal mungkin, tetap tidak akan menjadi apa-apa apabila ada yang mempunyai kemampuan yang lebih baik daripada saya, meskipun sebenarnya saya sudah layak dinyatakan lulus.

Kalau kata saya, jika memang ini adalah sebuah proses seleksi, maka sudah tidak tepat lagi menggunakan diksi UJIAN, lebih baik menggunakan istilah AUDISI. Iya, Audisi! Audisi Penyesuaian Kenaikan Pangkat! Maka hanya yang terbaik yang bisa memperoleh fasilitas ini. Hanya kepada mereka, yang memiliki kecerdasan mendekati ajaib. Salut dan hormat saya kepada mereka yang dinobatkan lulus dalam ‘audisi’ tahun lalu dan tahun ini.

Sulit! Mungkin saja soal-soal pada ujian ini bisa dijawab, namun membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Penyediaan waktu rata-rata 45 detik untuk setiap soal, menjadikannya nyaris mustahil untuk dijawab, meskipun ada yang bukan berupa hitungan. Misal saja, tes potensi sub padanan kata. Saya menganggap diri saya cukup berbudaya karena senang menonton film asing maupun lokal, cukup sering menulis, bahkan banci sosial media. Namun saya tidak pernah membaca atau mendengar kata-kata yang diminta padanan atau persamaannya itu. Contohnya? Saking asingnya, saya hanya bisa mengingat satu soal, INSET (yang setelah di-googling bersama teman-teman, bermakna ‘gambar/foto kecil’).
ME
NE
KE
TE
HE

!

Tapi, terus terang, tahun kedua ini, saya sedikit lebih optimis dibandingkan tahun lalu. Bukan karena ujiannya lebih mudah, tetapi karena saya merasa lebih siap. Saya pun tidak lantas merasa yakin lulus, karena siapa pun saat ini menunggu keajaiban namanya masuk dalam shortlist peserta lulus (…yang benar-benar short, tahun lalu hanya sekitar 1% kelulusan).

Meskipun besok masih ada ujian Psikotest, namun sebagian dari kami mengganggap ujiannya telah selesai. Selanjutnya, hanya kekuatan doa orang tua dan kekhusyukan sholat tahadjud yang mampu memberikan kabar baik bagi peserta yang pantas dan beruntung.

Tahun ini bisa jadi merupakan tahun terakhir bagi para pegawai di Direktorat Jenderal Pajak (dan mungkin juga teman-teman di Ditjen Bea Cukai) untuk mendapatkan kesempatan mengikuti UPKP Kementerian Keuangan, dikarenakan reorganisasi institusi kami menjadi Badan Penerimaan Negara yang terpisah dari Kemenkeu, yang diprediksikan terbentuk tahun depan (paling lambat 1 Januari 2017). Entah akan ada ‘kejutan’ apa lagi bagi para pegawainya. Namun yang pasti, walau dinilai sulit, kehadiran UPKP, sudah sangat berarti bagi kami (para pegawai). UPKP berarti memberikan kami kesempatan untuk berkompetisi. Karena untuk mendapatkan ‘tempat’ dan fasilitas terbaik, sudah seharusnya didapatkan melalui kompetisi mencari ‘bakat’ seperti ini, bukan melalui ajang mencari muka.

Jadi, UPKP itu PHP? Gak lah…..
Ga suka? Ya suka-suka saya lah…

————————————————
Tulisan ini saya tujukan kepada: teman-teman yang baru tahun depan berkesempatan mengikuti UPKP (bila masih ada dan bekesempatan). Cukup sering saya harus menjawab menggambarkan betapa sulitnya ujian itu, dan anehnya ada saja di antara mereka yang semacam tetap meremehkan. Belajarlah! Iya! Mulai sekarang!

Tulisan ini juga special untuk teman-teman yang baru saja mengikuti ujian ini kali pertama, dan mendapati dirinya mendadak menjadi kecil hati, perkenankan saya dan om Ikang Fauzi menyemangatimu :”Bung! Anda tidak sendiri!”

Dan untuk teman-teman yang telah merencanakan ujian percobaan ketiga (terakhir) tahun depan: GANBATTEEEEEEEE!!!!!! :’)

Iklan

2 Comments Add yours

  1. Papana Gery berkata:

    Salam kenal pak, pertama-tama, terima kasih atas latihan soal2nya, sangat membantu saat belajar teori.

    Mngenai mengulang I, kebetulan senasib nih ha3 … tp sepakat pak mmg thn ini feelnya bs lbih santai krn ga jd beban … walo thn lalu sy sempat shock berat gegara gagal … & sempat jg ga mau daftar tes 2015 krn msh trauma & ada ketakutan gagal lg ….

    hahaha …. mungkin perlu ada kajian mngenai efek psikologis yg dialami peserta th 2014 yg tdk lulus….hohoho…tp untungnya smua bs diatasi …

    Setuju 100% sy ttg pendapat sampean mngenai audisi … dan semoga ya pak, atas izin Tuhan, kita sama2 bisa lulus periode yg barusan ini 😀

    Suka

  2. ayah berkata:

    Amiiinn…amiiinn…. Saya tahu Tuhan selalu punya rencana yang lebih baik daripada keinginan kita… Tapi semoga salah satu rencana Tuhan itu… ya kelulusan kita. Hehehe… Amiiiinnn

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s