Membawa bayi bepergian dengan pesawat

Usia minimal berapa sebaiknya bagi bayi agar dapat ikut bepergian dengan menggunakan pesawat?

Selama pencarian informasi, kami belum menemukan data dan rekomendasi yang faktual untuk ini. Sebut saja, google, rekan sejawat, dokter, bahkan dosen dari dokter memiliki saran yang berbeda-beda.

Ketika kami menanyakan hal ini kepada dokter anak kami, beliau mengalihkan jawabannya dengan testimoni dosen beliau dulu, yang tidak membolehkan bayinya bepergian dengan pesawat hingga berusia 2 tahun. Wow… lama dok…. Kami tidak bisa menerka, apakah tindakannya berdasarkan kesimpulan medis, atau wujud afeksi dan perlindungan kepada anaknya saja.

Lain halnya dengan teman kami, mengaku sudah mengajak anaknya bepergian dengan pesawat, walau usianya masih beberapa minggu. Menurut beliau, tidak ada gangguan dan masalah apapun. Alhamdulillah.

Saran yang paling moderat dan umum yang paling sering kami dengar untuk hal ini adalah batas usia minimal 6 bulan. Sumbernya? Entah. Tapi rasanya saran ini yang paling siap untuk diterima.

Ketika mudik lebaran bulan juli 2014 kemarin, putra kami berusia 8 bulan. Adanya ‘patokan’ 6 bulan membuat kami tidak begitu gelisah dengan akibat pada kesehatannya. Kami lebih banyak pusing memikirkan trik agar dia tetap nyaman dalam posisi pangkuan selama 1 jam, ga pake nangis. Mengingat karakter anak kami yg sulit diam di mobil, yang bahkan jurus mimik asi pun tak mempan.

Hari H tiba, dan kami mulai deg-degan. Trik kami adalah, membuat anak kami kenyang, dan menidurkannya menjelang penerbangan, bahkan sebelum masuk pesawat. It works! Dia baru bangun setelah pesawat landing!

Penerbangan keduanya di hari kembali setelah mudik pun tiba. Di sini saya alpa, lupa menidurkannya sebelum masuk pesawat. Celaka! Awalnya memang dia bisa kami pangku. 10 menit selanjutnya pesawat belum take off juga dan dia mulai gelisah, ga mau dikenakan seat belt. Abang-abang pramugaranya ngotot minta anak kami harus pake seatbelt. Saya ngotot bilang dia ga mau. Pramugaranya malah pake acara nakut-nakuti kalo anak kami bisa jatuh ke bawah kursi. Akhirnya terpaksa. Akhirnya dipaksa. Akhirnya menangis. Akhirnya gaduh. Akhirnya penumpang sekeliling ikut memberikan nasehat. Dineneni katanya, soalnya telinga anak mungkin sakit. Gak manjur, dia ga mau nenen. Akhirnya, begitu penumpang dibolehkan melepaskan seatbelt, saya langsung berdiri menggendong dan membawanya ke lorong kursi penumpang, di dekat toilet. Akhirnya diam terisak-isak, lalu tertidur masih terisak-isak, sampai akhirnya tertidur pulas. Alhamdulillah, rasanya lega sekali.

Makan, nangis, tidur dan pup. Betapa menyenangkannya menjadi dirimu, nak. 🙂

Well, itu pengamalan kami, bagaimana dengan anda? Share ke kami yah… 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s