Ibu menyusui, bolehkah cabe-cabean?

Mmm… maksud kami, cabe dalam arti sebenarnya.

Bolehkah para ibu menyusui mengkonsumsi cabe dan makanan pedas lainnya? Kalo kata orang tua jaman dulu, tidak boleh, bisa bikin anaknya mules. Tapi bagaimana dari sudut pandang medis?

Ini adalah pertanyaan sejuta umat newparents, terlebih bagi yang mengandalkan ASI untuk makanan bayinya, termasuk kami. Kami masih ingat, bagaimana pertanyaan itu kami sampaikan ke dokter anak kami, ketika anak kami masih berusia beberapa hari:
“Dok, makanan apa yang tidak boleh dikonsumsi oleh ibunya?”
dengan cepat, dokter menjawab “RACUN!”….. makasih ya dok…
Menurut beliau, sang ibu boleh makan apa saja, bahkan cabe sekalipun. Yang menjadi catatan tambahan, bila ayah dan bunda mempunyai riwayat alergi, maka kemungkinan besar si anak akan mempunyai alergi terhadap makanan pula. Dalam kondisi ini, bunda harus hati-hati memilih makanan. Contohnya, ketika istri kami megkonsumsi susu formula khusus untuk ibu menyusui, ternyata kemudian ditemui ruam merah pada kulit bayi kami. Atas saran dokter, istri kami tidak diperkenankan mengkonsumsi susu tersebut. Tapi, kembali ke topik utama, makan cabe, boleh.

Hari berlalu, anak kami tiba-tiba saja sudah berusia 6 bulan. Badannya gempal, kami pun gemas luar biasa. Namun yang namanya bayi, tetap saja mudah terserang penyakit. Dia mulai keseringan buang air, sampai badannya terlihat menyusut. Malam itu dia sudah terlalu sering buang air hingga bentuknya cairan saja, kita memutuskan untuk ke dokter anak yang masih melayani konsultasi di malam hari. Dokter ini berbeda dengan dokter anak kami yang pertama. Bila dokter pertama beroperasional di rumah sakit, dokter ini praktek di rumahnya. Dokter pertama masih berusia muda, dokter kedua sudah nampak berusia kepala 5.

Setelah kami tiba di sana, betapa kagetnya kami mendengar pertanyaan diagnosanya: “apakah ibu mengkonsumsi cabe?”
Kami saling berpandangan dan cengengesan, itu sudah cukup menunjukkan jawabannya. Dokter ini menjelaskan, bahwa cabe memiliki kandungan minyak tertentu, yang mempengaruhi kandungan ASI, yang tidak baik bagi pencernaan bayi. Kami pulang dengan catatan resep manjur dan nasehat larangan cabe.

Bulan berganti, si kecil sudah berulang bulan, usianya sekitar 7 bulanan. Dia mencret-mencret lagi. Kami sedih lagi. Jujur saja, agenda boykot cabe tidak terlalu kami anggap serius. Entah karena pendapat dokter pertama yang membolehkan, atau istri kami yang memang pantang makan tanpa cabe. Kami akhirnya dihadapkan dengan pertanyaan yang sama, dan nasehat yang sama. Bila si ibu berkomitmen memberikan asi eksklusif, ibu harus berkomitmen tidak makan cabe, dan ayah harus berkomitmen menyembunyikan cabe dan segala turunannya. Kali ini kami menanggapinya lebih serius. Saya siap didiamkan si bunda karena telah melarangnya makan makanan pedas, demi kesehatan anak kami. Alhamdulillah, hingga tulisan ini dibuat, anak kami yang sudah 9 bulanan, tidak pernah lagi buang air berlebih.

Kami punya dua dokter anak, dan kedua-duanya memiliki saran kesehatan yang berbeda. Pun, kami yang bukan ahli medis memilih untuk mengesampingkan ego dan wawasan lokal, demi tumbuh kembang yang baik untuk anak kami.

Bagaimana dengan anda?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s